Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 27 Agustus 2015

Antara Aku, Mereka dan Surabaya

Gelisah.
Kata itu berpacu dalam mimpi yang merasa asing dalam suasana. Mencair dalam panasnya kota Surabaya. Meringkuk ditengah tanah yang katanya "Airlangga"
Kian matahari menyapa, teriknya hanya bisa bikin silau saja. Bukannya bersyukur, malah hanya bisa berdusta. Tentang topeng yang terus dipakai dari pukul lima sampai pukul lima.

Saat bulan menyapa ternyata hanya dilihat tanpa sempat ku terpukau. Purnama, katanya.. Tapi peduli apa aku kepadanya. Aku tetap sibuk dan terus mengumpat sambil ditemani Silampukau.
Roda terus berputar mengantarku kesana kemari. Bau matahari makin menyengat dari badan ku setiap hari. Dan ketika kasur begitu indah nya menyapa, ku hanya bisa bersabar karena teleponku akan berdering kembali.

Bulan dan Matahari sudah tidak ada bedanya. Pagi, siang, malam sama saja sibuknya. Dan semakin ku berharap agar ini selesai, adanya makin rusak lah waktu karena bertabrakan dengan situasi.
Mandiri, katanya. Apa daya aku hanya bisa bersemayam dalam pedihnya masa-masa menjadi mahasiswa baru.

Namun, itu saja belum cukup.

Kami, Trichomoniasis yang mengatasnamakan Delphinus tidak akan berhenti sampai disini.

Karena masa sulit bersama membuahkan hasil yang sama.


Senin, 17 Agustus 2015

i mess you (maksa Yul) ya, i miss you

Assalammualaikum Wr. Wb
(sorry jika kalian ngga mengerti apa yang gue bicarakan, ini benr-benar tentang suasana haTi yang bener-bener runyam)

okkay this is really sad, i cant doubt it, gue nulis ini bener-bener tanpa melihat karena air mata gue menggempul di kelopak mata (anggap gue lebay ngga apa apa kok, serius)
i mean, i completely can't rely to anyone, anymore
gue ngga bisa lagi yang namanya manja-manja dikala gue pusing, atau mungin hanya karena cuaca diluar tidak seperti yang gw inginkan.
mungkin dari kalian, pas baca entri ini mikir
"yaelah ngekos ngga seburuk itu, kok"
Tapi kenyataannya ini bener-bener buruk buat gue. Gue belum mempunyai kesempatan buat bilang "dadah, sampai ketemu enam bulan kedepan" kepada orang-orang yang gue anggap baik.
i didn't even say 'good-bye' to my dad as properly as you did.
satu jam sebelum gue masuk security check gue berusaha banget buat ngga nangis, biar Nyokap dan Kakak gue ngga merasa iba sama gue. Biar mereka reain gue pergi, meskipun gue sama sekali ngga mau di relain.
(FUCK KENAPA LAGUNYA 'RAHASIA' SIH??! KENAPA SENDU BANGET????!?!?!!
Semalam sebelum gue akan meninggalkan Jakarta, gue ngga tahan lagi, itu bener-bener hal yang paling ngga enakin. Rasanya Emil ganteng banget (????????) ngga bukan itu, rasanya susah banget bilang good night, goodbye gitu ke dia. Dan terus malah diikutin dengan bayangan temen-temen yang lain, keluarga, bahkan SUROOOOOO!!!!!!!!!! Sampai-sampai gue harus ngebengkakin mata gue. WHAT A SHAME.
Gue aja belum sempet ketemu sama my longtime best friend Indah, (entah dia masih nganggep gue 'temen' apa bukan)
GUE BAHKAN BELUM KETEMU BARAJIWA YANG SIBUK NYELAMATIN (MAKSUD GUE BILANG CONGRATS) GUE DI BERBAGAI MEDSOS!!!
gue belum sempet silahturahim ke Mitra Pelajar atau sekolah. Anjrit! i really miss for being busy in there!!!


call me immature. because i really am!!!!


Semuanya, gue belum siap ninggalin semuanya. Karena gue yang belum siap ini bikin gue kesel sendiri, Kenapa gue manja banget??? Tapi serius deh, wajar ngga sih gue begini? Gue ngga pernah sesedih ini lho. I mean, like.. im crying for days.


Dulu, rasanya kalau lagi sakit bisa minta dibeliin obat, minta dipijetin, pokoknya minta tolong apapun sama nyokap atau kakak lo. Sekarang boro-boro pamrih, minta tolong ke siapa juga ngga tahu.
Kalau lagi sepi, bosen, bisa ajak temen kemana, atau kalau lagi laper lo tau kan bakal minta delivery gratis ke siapa? Dan jikalau kalo mereka ngga bisa, lo tahu lo masih dalam jarak yang dekat dengan mereka. Sedangkan kali ini? YOU ARE COMPLETELY HOPELESS.


Dan bukannya gue makin kuat, mandiri, dan berpikir kedepan. Gue malah iri. Gue iri sama temen-temen yang dapat kampus yang masih berada dalam circle nya, atau yang mulai kuliah nya masih agak lama, karena jujur aja, menurut gue, ospek di universitas gue ini terlalu buru-buru (NJRIT ADA YANG KETOK PINTU MATA GUE KAN LAGI SEMBAB!!!!, MAAF YA YOS, TADI NGGA SOPAN KELUAR NYAMPERIN KAMU NYA PAKE NUTUP-NUTUPIN MUKA)
lanjut, gue iri, sama temen-temen gue  yang ternyata kesini bareng keluaranya. Rasanya mereka masih ada someone to rely on kalo lagi capek ospek, while i am not. Rika juga sendirian, sih. hi Rika.

Maybe its a part of growing up.


well, its really helping. Menulis, bener-bener membantu. Karena gue ngga tahu juga siapa yang akan baca, dan tidak mengganggu kehidupan orang secara memaksa. Jadi, inilah. curhatan gue. yang paling. curhat.

yaudah deh, gue pamit dulu
pusing juga jadinya

bye

Wassalammualaikum Wr.Wb




Surabaya 17 Agustus 1945
(Btw, selamat ulang tahun, Indonesia)


Kamis, 06 Agustus 2015

Sendiri.

Judul diatas, tak lain dan tak bukan memang apa yang ingin ku bicarakan sekarang juga. Itu topik yang akan ku angkat ke dalam permukaan kali ini.
Ya, bukan sebuah karangan tentang kata-kata indah, karena memang ingin mengatakannya secara jelas, tanpa membuat orang berpikir apa yang terselubung dalam tulisan ku kali ini. Namun, aku ingin membuat nya seserius mungkin. Karena, ya.. pada dasarnya hidup ku mulai saat ini harus lebih serius dari sebelumnya. (tapi, untuk blogging ngga akan terus-menerus se serius ini, kok hehehe)

Sungguh sedih mengetahui kalau memang kita akan berada dalam kesendirian yang lumayan lama. Tak bisa bergantung pada siapapun, uang pas-pasan, makan seadanya, transportasi sulit setengah mati...
Ya, itulah yang aku rasakan selama kurang lebih seminggu di Surabaya. Seharusnya, aku sendiri sadar, bahwa memang kita tidak pernah memiliki seseorang yang bisa diandalkan, bahkan keluarga mu sekalipun. Karena ya, mereka mempunyai masalah sendiri-sendiri. Rasanya begitu egois jika kita meminta mereka mengerti keadaan kita.
(Mari putar balikkan kata 'egois'
Sebenarnya saya lebih setuju bahwa 'tidak egois' adalah mengerti keadaan orang-orang sekitar mu, sehingga tidak mengganggu kehidupan mereka. Bukannya, berusaha bersikap peduli kepada lingkungan sekitar)
Kembali ke topik awal, dalam 5 tahun kedepan (kurang lebih) aku akan menghadapi semua itu lebih sering lagi, karena ya, program pendidikan yang aku pilih di Surabaya mengharuskan ku mengenyam pendidikan selama itu.
Ya, tapi itu pilihan hidup, dan takdir ku ternyata sudah ditetapkan disitu. Sungguh sombong rasanya jika kesal akan apa yang aku hadapkan nanti. Maka dari itu, aku berusaha bertahan. Ironisnya, seminggu yang telah ku jalani itu, kadang aku masih menggantungkan diriku kepada orang lain. Hal ini malah membuatku kesal pada diriku sendiri karena begitu hinanya tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri.

Well, manusia memang makhluk sosial, sih.. Kadang ada harusnya juga kita meminta pertolongan, dan membantu orang-orang sekitar. Tapi ya.. apa gunanya akal dan indra-indra ini jika kita terus meminta pertolongan? Pertanyaan itu menghantui ku selama ini, hingga makin kesal lah aku pada diriku sendiri, merasa sedih, dan merasa gagal.
Meskipun sebenarnya, aku belum bisa menghilangkan rasa ingin meminta pertolongan juga, sih..
hhhh.. Manusia..
mau nya apa, sih????

Jadi, Nurul Salamah Mahza.. Selamat datang dalam kesendirian 100% :)

Jumat, 31 Juli 2015

Kalikan dengan satu

Selembar kertas putih sudah siap untuk ditulisi.
Atas dirimu yang bertamu ketika sendu, jatuh cinta, dan jenuh. Yang sungguh berani menampakkan rupa diatas abu yang berterbangan karena tertiup oleh angin. Kau pasti tahu kalau detik terus berjalan? Maka apadaya lah diriku tidak mungkin bisa menghentikan, walau memang ku ingin malam tetap menjadi malam, dan bulan terlalu bahagia karena indahnya dunia saat ini, sehingga ia merasa rugi untuk terbenam. Lalu, tetaplah kita bersemayam, mengadu satu sama lain tentang terasing nya kita di muka bumi.

Sebenarnya aku ingin membiarkan kertas ini kosong tak terisi, sehingga malam ku dan malam mu akan menuai cerita lagi. Tapi kurasa sungguh sayang jika tidak ada dirimu dalam sebuah rangkaian aksara ku kali ini, aku ingin mengingat mu disetiap untaian kata, sampai ku tersenyum-senyum bodoh karena kelakuan kita yang bodoh, juga. Meskipun kau sendiri tahu, melakukan hal bodoh ini bersama ku adalah hal yang sangat menyenangkan. Akui saja, aku akan sangat senang mendengarnya.

Hal ini bukanlah hal yang seharusnya kita lanjutkan lebih jauh. Waktu, tempat, dan posisi tidak menandakan bahwa hal ini aman untuk diperankan oleh kita. Namun, berbagai pihak mendesak kita untuk menikmati hal-hal yang bukan seharusnya seperti ini, mereka adalah kondisi dan kesempatan, sungguh kali ini kondisi benar-benar membuatku bingung setengah mati. Ya, maka tersenyumlah kamu, atas ucapan ku yang kau bisa nilai dengan diri sendiri. Ku yakin kamu membenarkan perkataan ku kali ini. Karena kita, tak pernah benar-benar berada dalam jalur yang berbeda.

Mari, ku luruskan lagi. Aku sendiri tahu, kondisi dan kesempatan bukan hanya berpihak kepada kita. Lebih pahitnya, kita memiliki mereka dalam jenis yang sama. Sehingga begitu malas bagi kita untuk melawannya, dan bodohnya (karena kita memang bodoh) kita malah sama-sama berusaha membenarkan hal yang seharusnya, ehm, salah. Dan jika terungkap, kita akan sama-sama menyangkal. Betul sekali, dengan begitu kompak nya.

Jadi, inilah kita. 
Yang sama-sama bersembunyi dari waktu, tempat, dan posisi untuk merusak keamanan. Yang sama-sama sedang bersengkokol dengan kondisi dan kesempatan untuk mencari kenyamanan. Yang sama-sama terjebak dalam relung kejenuhan yang digunakan sebagai alasan. Dan yang saling menatap tanpa adanya kiasan.

***


Habislah kata-kata ku untuk menggambarkan malam ini (dan juga malam-malam sebelumnya) 
walau ku harap, tulisan ku ini akan membawa ingatan ku kepada mu, namun tulisan tetap memutar balikkan imajinasi dengan dirinya yang muncul sebagai fantasi. Maka kalikan lah kertas ku dengan angka satu, agar tak ada lagi kebingungan antara imajinasi ku dengan dirimu. Karena kalian sama-sama berdiri, menunggu untuk diakui.

Selamat malam, teruntuk kepada kalian yang membaca.

Jumat, 24 Juli 2015

let the words carry you away

Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.

Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.

Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)

Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.


"KAKAK!!!!"

Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.

Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?

Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.

Senin, 20 Juli 2015

WALAH!

Dance Dance by Fall Out Boy
Ceritanya backsound-nya
anggap aja gitu


Halo, setelah beberapa lama tidak posting, kini aku KEMBALI!
Yah, semacam blogger yang nulisnya musiman ya gue, sepertinya gue harus mulai pake tanggal posting kayak Barajiwa. 
Tapi, mengingat gue yang bukanlah seorang yang taat dengan jadwal, jadi... lebih baik ngga usah lah.
Biarkan saja gue tetap menjadi blogger musiman.
 (LABIL)

This Ain't a Scene blablabla by Fall Out Boy
lagunya udah ganti
ngga tahu juga kenapa masih Fall Out Boy?

Sebenarnya, alasan gue ngga posting adalah nunggu sampai gue dapat kuliah (WES SEKARANG BUNYI NYA UDAH 'MAHASISWA' LHO) Meskipun, gue ngga yakin juga sih bisa tahan kalau ternyata gue ngga dapat PTN tahun ini, dengan mengulangnya di tahun depan Yang mengejutkannya, adalah dengan bantuan doa dari diri sendiri, orang tua, teman-teman seperjuangan, dan pastinya restu dari Allah SWT, gue berhasil mendapatkan kuliah dengan jerih payah sendiri. Walaupun bukan dari SNMPTN ataupun SBMPTN ini adalah anugrah yang luar biasa buat seorang Nurul Salamah Mahza yang sudah terkenal cukup malas di sekolah apalagi dikalangan kelas XII IPA 3.
 WAHAHAH 

Greek Tragedy by The Wombats


Dan lebih kagetnya lagi, gue sangat jauh dari keluarga dan teman-teman (NOZA DI UNBRAW WOY MASIH LEBIH JAUHAN) berhubung, gue keterimanya di salah satu universitas belahan Jawa sebelah timur. 
WII UNDERAGE PADAHAL
Beruntungnya, (ngga ada untungnya sih) masih ada yang gue kenal disana, kayak temen-temen nyokap dan anak temen nyokap ya meskipun canggung maksimal. Dan sampai saat

I Don't Care by Fall Out Boy

Dan sampai saat ini, gue belum menemukan koskos-an, jadi TOLONG LAH YANG BACA POSTINGAN INI GUE MINTA ALAMAT-ALAMAT KOS-KOSAN YANG BERKISAR 400K-800K UDAH MASUK LISTRIK KALAU BISA WIFI DI DAERAH SURABAYA TIMUR. Yah, sekalian kasih iklan, gitu 
Fakultas yang gue naungi ini juga cukup keras, belajarnya. Padahal, sejak gue masuk SMA juga ngga pernah ada kepikiran buat masuk jurusan yang se-profesi ini (kalau kepo jurusan apa, silahkan pikirkan sendiri, ya) anehnya, gue daftar MIPA DIMANA-MANA gue ngga pernah lolos, sedangkan mendaftar jurusan ini malah langsung JOS LOLOS. (EEEE situ lupa di tolak sama IPB dulu?) Mungkin anak MIPA kudu berhijab dulu, ye?

So Long by Circa Waves

Jurusan gue ini ngga banyak minat, malah seringkali dipandang sebelah mata. PTN yang punya jurusan ini juga masih tergolong sedikit (atau lo aja yang kurang info, Yul). Dan gue juga kadang masih mendengar sedikit "sarkasme" setiap gue mengatakan jurusan apa yang gue ikuti.
Sejujurnya, ini jurusan bibit, bebet, bobot nya aja gue belum bisa mendalami banget. Setelah gue tahu, dapat referensi dari sana-sini hafalannya banyak banget. Mampus aja dah gua. Melipir di bawah kompor gas aje. Tapi apadaya, mungkin Allah maunya gue main sama Biologi aja daripada Fisika.

Australia Street by Sticky Fingers
SHiiiiD this beat is dope

Tapi, gue rasa ada panggilan alam dari jurusan gue yang satu ini, dari kegagalan gue masuk Geografi, buat jadi Geographer dan menjelajahi dunia, mengenal alam dan lain-lain. Mungkin ini jalan yang harus ditempuh seorang Geographer gagal. Meskipun, benang merahnya ngga cukup terlihat. At least, ada benang merah muda nya (?) kayak.. its more specific, like if you want to save the world, why don't you try to save the animals? (save the trees is a different story (bilang aja emang maksa sih, yul))
KARENA HEY!
Animals these days..
Orang-orang cuma saling share kepeduliannya tentang satwa-satwa yang terlantar. Mungkin mereka memang ngga punya waktu buat menolong, tapi kami, semoga siap menolong! dan kepedulian mereka pastinya menjadi dukungan untuk kami semua!!!!

Resah by Payung Teduh
aduh teduh banget jadinya
hujan..hujan..
e masih panas aje

Serunya, gue udah ngebaca grup jurusan gue yang sudah menyentuh 180 jiwa lebih. Dan disitu gue seorang yang ngga mengerti mereka ngomong apa. SET DAH. 
Kayak, google translate dari Jawa sama Indonesia tuh memang harus dibutuhkan banget pada saat-saat ini. Bisa-bisa kalau gue di marahin pake bahasa Jawa sama dosen gue cuma bisa ngangguk-ngangguk kikuk aje.

T-Shirt Weather - Circa Waves
ngga ngerti juga kenapa kayak "suweter weter" judulnya
ah tapi yang ini lebih asik

Udah ya, kayaknya gue udah bayar utang ini, sekarang tinggal bayar utang 12 hari puasa (HAHAHA LAMA BANGET YE)
bye baby baby peeeps

Minggu, 15 Maret 2015

Tentang Gue, yang Gak Ada yang Peduli Juga.

Seraya waktu berjalan kayaknya sudah begitu lama gue ngga menulis hanya sekedar "nulis" disini.
Karena sebenarnya lama-lama bosan juga gue baca blog gue yang isinya monoton gini. Biar ada kesan "gak begitu serius" nya, mari gue isi dengan beberapa kekesalan yang telah gue hadapi di kelas XII ini.

3 kata yang bisa menggambarkan perasaan gue tentang betapa menyedihkannya kelas 3 itu.

SUPER DUPER TEKANAN!!!!

Sumpah, kelas XII itu tekanan banget, menyadari Ujian Nasional itu sudah bulan depan rasanya gue ingin mengais-ngais tanah dan menguburkan diri sendiri saja. (dan bodohnya lo sempat-sempatnya nulis, Yul)
Awalnya gue keep selow woles kayak anak pantai. Tapi, apa daya bukannya jadi woles gue malah jadi ngga woles. Ikutan baper sana sini, ikutan emosian, dan waktu belajar malah jadi makin ngga ke kontrol. Dikarenakan tugas dan ujian diadakan secara serabutan oleh sekolah gue yang agak 'sialan' ini, gue jadi makin bingung apa yang harus gue kerjain duluan. Ujung-ujungnya... nulis lagi nulis lagi.

Entah, ini cuma gue apa kalian juga. Gue bener-bener keberatan dengan keadaan seperti ini

Cukup sudah curcol nya.

((( Kata kunci
Baper : Bawa Perasaan )))


Sebenarnya, akhir-akhir ini gue lagi kesel sendiri, banyak banget hal-hal kecil yang bikin keki. Tapi karena gue lagi belajar sama Lissa biar ikutan jadi
"ini hidup gua, Bro, lo ya lo, gue ya gue" gue akhirnya berusaha untuk tidak baper. Namun, gagal. Iya, gue munafik, tau kok.
Gue kesel aja, udah tau ya ini lagi ujian banyak banget orang baper kan ngeselin(LHA LO SENDIRI?!) iya, termasuk gue ehehe.

Kadang gue ngerasa mereka yang baper tuh nyebelin banget, kayak "IH LO LEBAY BANGET SIH, GITU AJA KOK DIMASUKIN HATI."
Padahal kalo di putar balikkan, temen gue bisa aja bales ngomong,
"IH YUL, LO LEBAY BANGET SIH, UDAH TAHU DIA BAPER KOK LO MALAH IKUTAN KESEL GARA-GARA DIA BAPER. IH LO BAPER"

Emang, jadinya gue mungkin sekarang udah gak bisa bilang kalo gue itu penganut ENTP garis keras (ketahuan suka main ask.fm)
Tugas-tugas dan tekanan terhadap ujian adalah salah satu pemicu detak jantung ini.. (LOH) maksud gue, pemicu dimana teman-teman seperjuangan gua dan gue makin gak jelas aja mau nya apaan. Jadi emosional (TERMASUK GUA) sampai gue liat nya agak "huh? kok jadi gini?"
Karena, entah kenapa gue merasa kayak ada perang dingin hanya karena "baper"
Ya.. gue kadang gak suka dengan adanya perbedaan yang dari awalnya sama sekali ngga positif. Wong, nama nya juga sama-sama murid, sama-sama kelas tiga, kenapa juga sekarang jadi kubu-kubuan. Cuma karena....... baper. YHA

ARGH gue jadi bingung daritadi tuh gue nulis topik nya tentang apa, sih? Maaf ya, udah ngga jelas, gegara besok ujian kimia ditambah remedial biologi, tapi pengen curhat.
yaudah, jadi gajelas gini..

Mungkin topik utama gue yang sebenarnya adalah....

BAPER!!!

Ya, kalo mau pake bahasa Indonesia yang baik dan benar, mungkin bisa dikatakan "emosional" tapi, karena gue lagi capek pake bahasa baku, yaudah pake "Baper" aja.

Emang ya, baper tuh.. kaco si.
Kalo kata my brother Barajiwa Anggit Sentausa, semua orang tuh baper. Gue sih, setuju. Yang ngebedain ntuh bagaimana doi menyikapi kebaperan-nya. Ada berbagai macam cara orang menyikapi baper.

Jujur aja kalau gue sendiri menyikapi baper dengan mencurahkan segala emosi nya pada detik itu juga, saat "sesuatu" yang bikin gue baper emang lagi berlangsung, ngga kenal waktu, dan ngga kenal tempat.

(SEBELUMNYA SAYA MINTA PERHATIAN :
Kalau anda menemukan kesamaan topik dengan blog adik saya (atau teman saya), yang tak lain dan tak bukan adalah Barajiwa Anggit Sentausa. Saya sudah tahu. Tapi, ini semua hanya dikarenakan oleh ikatan batin kita yang sungguh kuat dan (mungkin) sama sama merasa jikalau "baper" memang topik yang cocok untuk diangkat ke permukaan. Namun, sayangnya dia menulis terlebih dahulu, sedangkan saya masih menyimpannya di dalam draft. Perilaku adik seperti itu tidak boleh dicontoh. 
Mulai dari sini, memang ditulis pada tanggal 15 Maret 2015)


Misalnya, kayak kalo ada orang yang bikin gue kesel, gue lebih mending langsung ngomong di depan orangnya, contoh lain (yang bikin gue lebih ngeselin) adalah, gue kadang suka langsung ngomong tentang ide yang gue punya (jika gue rasa, ide gue lebih baik daripada mereka-mereka) daripada gue simpen-simpen dan jatuhnya gue malah ngga ikhlas ngelakuin peran gue untuk ide mereka.
Ya, kecuali kalo argumen mereka jelas. Dan, gue kalah telak. Biasanya, gue akan benar-benar tunduk kepada mereka, hahaha.

Namun, sejujurnya gue emang baper banget, dan cara menyikapi nya juga sering salah banget.

Sikap gue yang tadi cuma Kamuflase.

Gue kadang cenderung nyimpen-nyimpen aja kalo gue kesel sama sesuatu, takut kalau orang nya marah atau gimana (biasanya diperuntukkan kepada orang yang lumayan gue peduli-in, kayak emak gue atau pacar gue atau atau sahabat gue) Tapi, setelah melakukannya gue malah merasa begok sendiri, merasa kalau hal itu seharusnya ngga gue lakukan karena sama sekali ngga ada pengaruh baik nya. Untuk gue.
Menyimpan kebaperan terlalu lama bisa buruk juga sama aja kayak nyimpen asap rokok di paru-paru.
Karena, entah gue aja atau yang lain juga merasakannya, gue kalau menyimpan kebaperan lama-lama malah bikin ngga bisa intropeksi diri. Mungkin, karena sikap egois gue yang ngga mau ngalah, jadi kalau gue ngalah mulu rasanya kesel sendiri aja gitu. Terus jadi minta dikasihanin, berharap doi (orang/sesuatu yang menyebabkan kebaperan) menjadi sadar tentang apa yang terjadi pada gue sendiri.

PADAHAL SALAH NYA ADA DI GUE ;

Kenapa coba gue sok-sok biasa aja ketika gue dihujat setengah mati padahal alasan mereka ngehujat gue juga sungguh irasional?
Kenapa coba gue sok mengerti, padahal GUE AJA NGGA MENGERTI?!
Kenapa coba gue sok baik, padahal, GUE KESEL BANGET?!
Kenapa coba gue sok-sok oke aja, padahal 'Profesor' suka banget merocos ini itu saat gue sedang ingin serius belajar?

Padahal tanpa sepengatahuan gue mereka tuh, cuma bercanda, atau mungkin ngga maksud, atau mungkin ngga sengaja, atau mungkin sebenarnya ngga tertuju untuk gue, atau mungkin emang gue nya yang salah.

Nah, dengan adanya banyak kebaperan yang tersimpan dihati, kebaperan yang ngga ada orang yang tahu kecuali lo sendiri dan Allah, lantas bagaimana orang atau sesuatu itu bisa tahu tentang apa yang terjadi sama kita?
Sementara, di lain hati lo nangis-nangis, dan seseorang / sesuatu yang membuat lo baper tidak merasa ada apa-apa dan akhirnya lo capek sendiri. Lo marah. Lo kesal. Dan lo baru saja meninggalkan orang/sesuatu itu dengan penuh kebingungan, serta tanpa ada maaf yang terucap.

YHAAAA


Gitu tuh, jadi sekarang gue tahu. Sikap kamuflase gue itu sebenarnya banyak juga manfaat nya (lebih ke manfaat untuk diri sendiri sih, Yul)
Karena, kayaknya gue merasa ngga ada guna nya menyimpan kebaperan yang sebenarnya jika diungkapkan tidak ada masalah juga. Paling-paling dianggap nyebelin.
Jadi, untuk orang-orang yang suka menyimpan kebaperannya, lebih baik omongin alasan-alasan yang bikin lo emosi itu apa, deh.. Sebelum semuanya terlambat, dan malah cuma ngukir sesal saja.

#EA


OH IYA daritadi kan gue ngebahas nya baper yang merujuk ke "tersinggung"-an doang, kan?
Nah, kalau misalnya baper yang merujuk ke "geer" gimana tuh, Yul?

Gue lebih memilih gak baper sih kalau itu HAHAHAHA.
Atau engga, sekalian aja kayak Sikap Kamuflase.

Putus urat malu lu. Ngomong sejujurnya.  Jangan lupa, harus straight to the person. Terus bilang,

"Udah 3 tahun aku baper gara-gara kamu, kita pacaran aja, yuk"


Dan Selamat, anda (mungkin) tidak akan mendapatkan nya selama seumur hidup
atau, hukum 50:50 sudah selayaknya berlaku.


OHIYA
btw, gue mau share sesuatu yang dari kemarin udah bikin kepikiran sebenarnya gue suka sama cewek apa cowok THIS GIRL IS SOMETHING I CAN'T RESIST (lho lagu crj dong)
nih,





Minggu, 08 Maret 2015

Tentang Senja

Mengapa senja selalu tertulis di berbagai macam puisi yang ku baca? Sebenarnya, saya sendiri tidak begitu mengerti tentang dunia per-puisi-an. Aku sempat mengambil kesimpulan, entah, mungkin karena warna oranye nya yang hanya dalam hitungan detik dapat dinikmati, atau karena cara pengucapannya begitu puitis dan cocok untuk mempercantik sebuah rima.

Senja, dimana adanya pergantian siang ke malam, dimana adanya pergantian terang ke gelap. Mudahnya, seperti itu. Namun, jikalau kau menjadi senja, apakah kau akan merasa spesial? Apakah kau akan merasa cantik atau anggun?
Senja, apakah dia nyata? Apakah dia semu?

Jelas dia adalah nyata! Dalam kondisi alam, senja adalah perubahan dimana matahari mulai terbenam akibat rotasi bumi yang berusaha bersikap adil dalam setiap detil geografisnya.
Maka, anggaplah senja mu nyata.
kini, marilah kita ceritakan senja. Tentang detik yang hanya berjalan sebentar, tentang bumi yang bersikap seimbang.
Hilangkanlah perasaan semu mu tentang senja, nikmati lah senja mu selagi bisa.

Tapi apakah senja mu dapat terus bersamamu? Sayangnya tidak, sayang. Senja tak akan pernah meninggalkan langit. Hanya saja senja bersikap simpati kepada mu dan terus datang pada waktunya agar kau sempat melihatnya. Ia tak akan menunggu mu, senja tak akan pernah ada waktu untuk menunggu dirimu yang hidupnya penuh oleh kesibukkan tentang masalah duniawi dan akhirat. Kejarlah dirinya jikalau kau berniat untuk terus menyimpannya didalam memori.

Sabtu, 28 Februari 2015

Asing

Terperanjat lah dirimu dalam kesinambungan tentang lupa diri.
Lupa ambisi, lupa ilusi. Bermain dengan api, bermain dengan salju, kini sudah tak ada bedanya karena sama sama ngilu.
---Cukup basa-basinya

Apa kabar kau, jenaka? sulit kah dirimu mempertahankan hidup?
sudah bangga kah kamu dengan tawa dari bermacam-macam orang?
Apa kau ternyata malah memilih mundur dari begitu banyaknya realita yang menganggap mu adalah orang yang sekedar bahagia?
Jangan mempersusah diri, wahai Jenaka, menyayangi seorang wanita memang kerap kali menyakitkan. Kini memang waktunya kamu bersedih di sudut ruang hias ini, biarkan saja mereka jadi kebingungan atas kelakuan mu yang sungguh merugikan.
Namun ada satu yang harus kau ingat setelah kau menangis karena merasa kurang kasih sayang seperti manusia normal, Jenaka.
Wanita tak suka dirimu, Jenaka. Wanita mencintai dirinya yang sudah terlebih dahulu memiliki keseriusan daripada engkau yang hanya bisa membuatnya tersenyum saja.
Lupakan lah seorang Wanita, Jenaka. Wanita memang bukan untuk mu.
Inilah saat nya, Jenaka. Cari lah perempuan lain yang bukan hanya sekedar Wanita.