Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 20 Januari 2016

9351

Halo.

Sudah berapa tahun ya gue nge-blog? Gue bernostalgia dan baru sadar awal gue nge-blog lumayan lama, yaitu kelas dua SMP untuk blog pertama gue, ya. Ya, masih alay-alay nya deh itu. Gue udah melewati berbagai perubahan dari gaya penulisan gue. Entah, kayak setiap tahun gue memliki gaya bahasa yang suka ganti-ganti.
Kadang ada yang kayak lagi curhat, ada yang sok nasihatin, sok aesthetic...

Kalau boleh jujur, gue juga ngga ngerti alasan gue suka nulis tuh apa. Bisa bikin tenang aja kali, ya? Karena gue curhat, tanpa ada yang ngerti, tapi gue yakin ada yang denger (re: baca) . Beberapa sih emang karena kebingungan sama curhatan orang, harus kasih saran apa, eh malah nyaraninnya lewat tulisan.

 Kurang lebih lima tahun gue nge blog. Lama juga, ya hehehe. Sebenernya di post kali ini gue mau bilang Terima Kasih banget ke semua yang pernah mampir ke blog gue yang absurd ini hehehe. Meskipun suka ngga jelas dan suka kebanyakan posting atau malah lama banget nge-gap nya.



HUABAHAAHHSANJSMCNUWEDCKE

BANYAK YA

IYALAH LO UDAH LIMA TAHUN NGEBLOG YUL MENURUT LO AJE


Hehehehe Tapi tetep aja sih dari lima tahun ini tetep nambah aja gitu meski sedikit-sedikit HEHEHEHEHE makasih banyak ya guys yang suka iseng buka blog gue hehehe

Oiya, karena blog ini udah too much gt ya tautannya, gue baru-baru ini pindah tempat buat ngeblog, namanya



Mungkin gue bakal jarang post disini, kecuali emang gue lupa password blog sebelah. Hehehe

love you all

xoxo

Senin, 02 November 2015

Semesta

Bulan purnama menatap malu terhadap kami yang masih kedinginan padahal sudah dibalut oleh serangkaian baju dan penutup kepala. Suasana terus menjadi dingin manapun tak ada yang ingin mencairkan suasana. Biarkanlah keadaan terus bersemayam seperti berada di antartika. Aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini, karena sudah sewajarnya kebahagiaan tidak diwakilkan oleh suasana.

Mata nya redup namun tajam saat memandang ku, ia seakan ingin menembus apa yang ada dalam pikiran ku ini. Aku hanya tersenyum. Karena apalah aku ini yang tidak pernah bisa menerka apa yang ada di dalam pikirannya. Waktu kini memutar balikkan pencitraan tentang kasih sayang yang hanya omong kosong adanya. Walau sudah ku yakinkan untuk tidak kembali terjatuh pada lubang yang sama, sorot matanya tetap mengajakku bermain dalam sekumpulan paradoks yang dirinya buat sendiri. Yakinilah aku hanya sebuah obat dari semua keluhannya. Dan aku tetap senang akan hal itu.

Manusia pada dasarnya adalah individu terbodoh di dunia. Mau saja dipermainkan hanya karena hal itu menyenangkan meski sudah rugi bandar. Kalau begitu mari mundur sejenak mencari keyakinan tentang peradaban dunia yang makin lama makin aneh terdengar. Aku adalah salah satunya. Meski sejujurnya diriku tak memiliki keyakinan.

Karena sebagian besar jiwaku telah direnggut oleh dirinya yang fana. Kebingungan berputar dikepala namun enggan untuk dipertanyakan, kepada dirinya yang menatap ku dengan penuh kuasa.

Andai saja noda tak berarti sesuatu, maka ku habisi dia dan ku ambil kembali jiwaku. Tetapi sekali lagi untuk apa aku berpikir seperti itu, mengingat keadaan selalu berpihak kepadanya, sang tuan dari semesta ku.

Kamis, 22 Oktober 2015

dilemma

Ada kisah dimana kami saling menatap linglung.
Tentang menyapa yang begitu terasa salah, dan tentang melangkah jauh yang makin mengukir penyesalan. Aku ini terasing dalam silir angin, tak kenal siapa-siapa layaknya daun yang gugur tertiup angin.
Merana disetiap sudut bola mata seseorang yang asyik dalam mempermainkan sapaan dalam sebuah konsep yang universal. Sedangkan apalah aku ini, hanya seseorang yang penuh oleh keterasingan khayalan yang dibuat-buat sendiri.
Namun selalu begitu akhirnya, aku tidak bisa memperjuangkan khayalan ku sendiri. Biarkanlah ilusi ku merana diatas trotoar yang diinjak-injak oleh pejalan kaki, tidak dipungut, tidak dibuang ketempatnya. Karena hanya disitulah ilusi ku pantas bersemayam. Dijalanan, dan tidak ada yang memedulikan.
Kini aku menanyakan hal ini kepada diriku sendiri, untuk apa aku tersenyum manis kepada halnya yang hanya ingin menjadi ilusi seseorang? Padahal ku sudah lelah, aku ini terlalu sering jatuh di lubang yang sama.
Eh, untuk apa aku menceritakan masa lalu? hahaha
Baiklah untuk dirimu yang selalu berhasil membuat perut ini bergetar setiap kamu menyapa diriku,
Tolong lah jangan berhenti menyapaku.

Sabtu, 19 September 2015

Kemeja Putih

Aku bersandar di salah satu sudut kamar nya. Aku sendiri sibuk membolak-balikkan majalah porno yang ia punya, entah mengapa gadis didepan ku ini mempunyai majalah porno tergeletak begitu saja diatas mejanya. Namun karena aku melihatnya yang sepertinya begitu malas berbicara denganku, aku pun mengurungkan niat ku untuk menanyakan "kenapa".

"Tsk.."
Aku mendongkakan kepala ku kearah nya. Dia terlihat mengernyit kepanasan karena jarinya terciprat oleh air mendidih. Dia yang mengenakan kemeja putih ku yang terlihat sangat kebesaran tanpa mengenakan bawahan layaknya memamerkan kakinya yang panjang di hadapanku. Meskipun niatnya memamerkan hal itu kepada ku adalah yang sangat tidak memungkinkan, tapi aku masih berharap kalau dia memang memamerkan hal itu kepada ku. Ah.. itu semua karena aku dan dia sudah begitu lama bersama. Semua hanya karena kebiasaan.

"Masuk-masuk aja lo ke kamar gue, emang udah minta izin?"
"Pake-pake aja lo baju gue, emang udah minta izin?", ia pun diam dan duduk diatas kursi di kamarnya.

Pikiran ku mendesak ku untuk terus berada di kamarnya, namun aku memiliki perasaan untuk cepat-cepat keluar dari kamar ini. Kamarnya yang hanya ada kasur, meja besar seperti meja di restoran sunda yang lesehan dan gantungan baju. Tidak ada lemari. Untuk kamar sebesar ini, kamar ini sungguh kosong. Aku pernah bertanya mengapa ia tidak menambahkan beberapa properti lagi, ia hanya berkata "Aku suka hal yang kosong, seperti isi kepala mu"
Sekali lagi, aku hanya tersenyum mendengar adik ku sendiri berkata seperti itu.

"Mikirin apaan sih? mau denger lagu, ngga?"
Diputarnya salah satu lagu favorit kami saat masih kecil, Only Love Can Break Your Heart

Akhirnya ada bising..

Semenjak Mama sudah berpulang ke pelukan Nya, rumah ini menjadi sepi. Kami adalah dua orang yang pendiam. Mungkin keturunan Papa? ya aku tidak pernah mengingat sosoknya, entah meskipun dia selalu ada dimana pun kami berada, kehadirannya tidak pernah begitu mengesankan didalam memoriku.
Ia berjalan ke arah ku, duduk dihadapan ku, menatap ku sok serius. "Kenapa sih?" tanya ku, terganggu oleh tatapannya
"Ajari aku dansa, kamu ikut Prom kan saat SMA? dengan Rachel? Sedangkan aku tidak"

Padahal aku dan Rachel sama sekali tidak pergi ke prom. Kami hanya menghabiskan waktu di satu taman komplek perumahan yang luas. Lumayan bisa buat tidur. Menurut kami prom hanya menghabiskan uang, namun baik orang tua ku maupun Rachel sangatlah bersemangat dengan prom. Untuk uangnya, kami habiskan untuk beli komik dan memesan Pizza Hut.
Sedangkan saat malam prom adik ku ini, Mama berada di rumah sakit, jadi.. kembali lah ia dengan maskara nya yang luntur dan mengaku berlari di malam hari untuk dapat memeluk Mama.

Dengan matanya yang membesar, memanja, mengingatkan ku saat ia memohon kepada ku untuk tidak mengatakan kepada Mama bahwa dia pulang jam dua pagi hanya karena penasaran akan dunia gemerlap. Sebagai kakak yang baik, aku pun berdiri, mengabulkan permintaan adikku Aku menyentuh pinggulnya, dan membiarkan ia menggantungkan kedua tangannya diatas pundak ku.
Setiap alunan lagu Neil Young menuntun kami bergerak maju mundur, kanan kiri, sesuai nada yang makin membawa kehanyutan ku akan...
Eh,

Tangan kanannya kini menuju kearah leher ku. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, ia seperti sedang terhanyut oleh aluanan lagu. Aku hanya memalingkan mataku dari hadapannya dengan menoleh ke arah lain. Namun tangan kanannya malah membimbing kepala ku untuk menghadap kepadanya.
Sehingga pada akhirnya...

Tangan kanan itu tetap membimbing ku.

Dasar adik kurang ajar.


Kamis, 27 Agustus 2015

Antara Aku, Mereka dan Surabaya

Gelisah.
Kata itu berpacu dalam mimpi yang merasa asing dalam suasana. Mencair dalam panasnya kota Surabaya. Meringkuk ditengah tanah yang katanya "Airlangga"
Kian matahari menyapa, teriknya hanya bisa bikin silau saja. Bukannya bersyukur, malah hanya bisa berdusta. Tentang topeng yang terus dipakai dari pukul lima sampai pukul lima.

Saat bulan menyapa ternyata hanya dilihat tanpa sempat ku terpukau. Purnama, katanya.. Tapi peduli apa aku kepadanya. Aku tetap sibuk dan terus mengumpat sambil ditemani Silampukau.
Roda terus berputar mengantarku kesana kemari. Bau matahari makin menyengat dari badan ku setiap hari. Dan ketika kasur begitu indah nya menyapa, ku hanya bisa bersabar karena teleponku akan berdering kembali.

Bulan dan Matahari sudah tidak ada bedanya. Pagi, siang, malam sama saja sibuknya. Dan semakin ku berharap agar ini selesai, adanya makin rusak lah waktu karena bertabrakan dengan situasi.
Mandiri, katanya. Apa daya aku hanya bisa bersemayam dalam pedihnya masa-masa menjadi mahasiswa baru.

Namun, itu saja belum cukup.

Kami, Trichomoniasis yang mengatasnamakan Delphinus tidak akan berhenti sampai disini.

Karena masa sulit bersama membuahkan hasil yang sama.


Kamis, 06 Agustus 2015

Sendiri.

Judul diatas, tak lain dan tak bukan memang apa yang ingin ku bicarakan sekarang juga. Itu topik yang akan ku angkat ke dalam permukaan kali ini.
Ya, bukan sebuah karangan tentang kata-kata indah, karena memang ingin mengatakannya secara jelas, tanpa membuat orang berpikir apa yang terselubung dalam tulisan ku kali ini. Namun, aku ingin membuat nya seserius mungkin. Karena, ya.. pada dasarnya hidup ku mulai saat ini harus lebih serius dari sebelumnya. (tapi, untuk blogging ngga akan terus-menerus se serius ini, kok hehehe)

Sungguh sedih mengetahui kalau memang kita akan berada dalam kesendirian yang lumayan lama. Tak bisa bergantung pada siapapun, uang pas-pasan, makan seadanya, transportasi sulit setengah mati...
Ya, itulah yang aku rasakan selama kurang lebih seminggu di Surabaya. Seharusnya, aku sendiri sadar, bahwa memang kita tidak pernah memiliki seseorang yang bisa diandalkan, bahkan keluarga mu sekalipun. Karena ya, mereka mempunyai masalah sendiri-sendiri. Rasanya begitu egois jika kita meminta mereka mengerti keadaan kita.
(Mari putar balikkan kata 'egois'
Sebenarnya saya lebih setuju bahwa 'tidak egois' adalah mengerti keadaan orang-orang sekitar mu, sehingga tidak mengganggu kehidupan mereka. Bukannya, berusaha bersikap peduli kepada lingkungan sekitar)
Kembali ke topik awal, dalam 5 tahun kedepan (kurang lebih) aku akan menghadapi semua itu lebih sering lagi, karena ya, program pendidikan yang aku pilih di Surabaya mengharuskan ku mengenyam pendidikan selama itu.
Ya, tapi itu pilihan hidup, dan takdir ku ternyata sudah ditetapkan disitu. Sungguh sombong rasanya jika kesal akan apa yang aku hadapkan nanti. Maka dari itu, aku berusaha bertahan. Ironisnya, seminggu yang telah ku jalani itu, kadang aku masih menggantungkan diriku kepada orang lain. Hal ini malah membuatku kesal pada diriku sendiri karena begitu hinanya tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri.

Well, manusia memang makhluk sosial, sih.. Kadang ada harusnya juga kita meminta pertolongan, dan membantu orang-orang sekitar. Tapi ya.. apa gunanya akal dan indra-indra ini jika kita terus meminta pertolongan? Pertanyaan itu menghantui ku selama ini, hingga makin kesal lah aku pada diriku sendiri, merasa sedih, dan merasa gagal.
Meskipun sebenarnya, aku belum bisa menghilangkan rasa ingin meminta pertolongan juga, sih..
hhhh.. Manusia..
mau nya apa, sih????

Jadi, Nurul Salamah Mahza.. Selamat datang dalam kesendirian 100% :)

Jumat, 31 Juli 2015

Kalikan dengan satu

Selembar kertas putih sudah siap untuk ditulisi.
Atas dirimu yang bertamu ketika sendu, jatuh cinta, dan jenuh. Yang sungguh berani menampakkan rupa diatas abu yang berterbangan karena tertiup oleh angin. Kau pasti tahu kalau detik terus berjalan? Maka apadaya lah diriku tidak mungkin bisa menghentikan, walau memang ku ingin malam tetap menjadi malam, dan bulan terlalu bahagia karena indahnya dunia saat ini, sehingga ia merasa rugi untuk terbenam. Lalu, tetaplah kita bersemayam, mengadu satu sama lain tentang terasing nya kita di muka bumi.

Sebenarnya aku ingin membiarkan kertas ini kosong tak terisi, sehingga malam ku dan malam mu akan menuai cerita lagi. Tapi kurasa sungguh sayang jika tidak ada dirimu dalam sebuah rangkaian aksara ku kali ini, aku ingin mengingat mu disetiap untaian kata, sampai ku tersenyum-senyum bodoh karena kelakuan kita yang bodoh, juga. Meskipun kau sendiri tahu, melakukan hal bodoh ini bersama ku adalah hal yang sangat menyenangkan. Akui saja, aku akan sangat senang mendengarnya.

Hal ini bukanlah hal yang seharusnya kita lanjutkan lebih jauh. Waktu, tempat, dan posisi tidak menandakan bahwa hal ini aman untuk diperankan oleh kita. Namun, berbagai pihak mendesak kita untuk menikmati hal-hal yang bukan seharusnya seperti ini, mereka adalah kondisi dan kesempatan, sungguh kali ini kondisi benar-benar membuatku bingung setengah mati. Ya, maka tersenyumlah kamu, atas ucapan ku yang kau bisa nilai dengan diri sendiri. Ku yakin kamu membenarkan perkataan ku kali ini. Karena kita, tak pernah benar-benar berada dalam jalur yang berbeda.

Mari, ku luruskan lagi. Aku sendiri tahu, kondisi dan kesempatan bukan hanya berpihak kepada kita. Lebih pahitnya, kita memiliki mereka dalam jenis yang sama. Sehingga begitu malas bagi kita untuk melawannya, dan bodohnya (karena kita memang bodoh) kita malah sama-sama berusaha membenarkan hal yang seharusnya, ehm, salah. Dan jika terungkap, kita akan sama-sama menyangkal. Betul sekali, dengan begitu kompak nya.

Jadi, inilah kita. 
Yang sama-sama bersembunyi dari waktu, tempat, dan posisi untuk merusak keamanan. Yang sama-sama sedang bersengkokol dengan kondisi dan kesempatan untuk mencari kenyamanan. Yang sama-sama terjebak dalam relung kejenuhan yang digunakan sebagai alasan. Dan yang saling menatap tanpa adanya kiasan.

***


Habislah kata-kata ku untuk menggambarkan malam ini (dan juga malam-malam sebelumnya) 
walau ku harap, tulisan ku ini akan membawa ingatan ku kepada mu, namun tulisan tetap memutar balikkan imajinasi dengan dirinya yang muncul sebagai fantasi. Maka kalikan lah kertas ku dengan angka satu, agar tak ada lagi kebingungan antara imajinasi ku dengan dirimu. Karena kalian sama-sama berdiri, menunggu untuk diakui.

Selamat malam, teruntuk kepada kalian yang membaca.

Jumat, 24 Juli 2015

Carried by words

Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.

Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.

Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)

Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.


"KAKAK!!!!"

Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.

Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?

Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.

Senin, 20 Juli 2015

WALAH!

Dance Dance by Fall Out Boy
Ceritanya backsound-nya
anggap aja gitu


Halo, setelah beberapa lama tidak posting, kini aku KEMBALI!
Yah, semacam blogger yang nulisnya musiman ya gue, sepertinya gue harus mulai pake tanggal posting kayak Barajiwa. 
Tapi, mengingat gue yang bukanlah seorang yang taat dengan jadwal, jadi... lebih baik ngga usah lah.
Biarkan saja gue tetap menjadi blogger musiman.
 (LABIL)

This Ain't a Scene blablabla by Fall Out Boy
lagunya udah ganti
ngga tahu juga kenapa masih Fall Out Boy?

Sebenarnya, alasan gue ngga posting adalah nunggu sampai gue dapat kuliah (WES SEKARANG BUNYI NYA UDAH 'MAHASISWA' LHO) Meskipun, gue ngga yakin juga sih bisa tahan kalau ternyata gue ngga dapat PTN tahun ini, dengan mengulangnya di tahun depan Yang mengejutkannya, adalah dengan bantuan doa dari diri sendiri, orang tua, teman-teman seperjuangan, dan pastinya restu dari Allah SWT, gue berhasil mendapatkan kuliah dengan jerih payah sendiri. Walaupun bukan dari SNMPTN ataupun SBMPTN ini adalah anugrah yang luar biasa buat seorang Nurul Salamah Mahza yang sudah terkenal cukup malas di sekolah apalagi dikalangan kelas XII IPA 3.
 WAHAHAH 

Greek Tragedy by The Wombats


Dan lebih kagetnya lagi, gue sangat jauh dari keluarga dan teman-teman (NOZA DI UNBRAW WOY MASIH LEBIH JAUHAN) berhubung, gue keterimanya di salah satu universitas belahan Jawa sebelah timur. 
WII UNDERAGE PADAHAL
Beruntungnya, (ngga ada untungnya sih) masih ada yang gue kenal disana, kayak temen-temen nyokap dan anak temen nyokap ya meskipun canggung maksimal. Dan sampai saat

I Don't Care by Fall Out Boy

Dan sampai saat ini, gue belum menemukan koskos-an, jadi TOLONG LAH YANG BACA POSTINGAN INI GUE MINTA ALAMAT-ALAMAT KOS-KOSAN YANG BERKISAR 400K-800K UDAH MASUK LISTRIK KALAU BISA WIFI DI DAERAH SURABAYA TIMUR. Yah, sekalian kasih iklan, gitu 
Fakultas yang gue naungi ini juga cukup keras, belajarnya. Padahal, sejak gue masuk SMA juga ngga pernah ada kepikiran buat masuk jurusan yang se-profesi ini (kalau kepo jurusan apa, silahkan pikirkan sendiri, ya) anehnya, gue daftar MIPA DIMANA-MANA gue ngga pernah lolos, sedangkan mendaftar jurusan ini malah langsung JOS LOLOS. (EEEE situ lupa di tolak sama IPB dulu?) Mungkin anak MIPA kudu berhijab dulu, ye?

So Long by Circa Waves

Jurusan gue ini ngga banyak minat, malah seringkali dipandang sebelah mata. PTN yang punya jurusan ini juga masih tergolong sedikit (atau lo aja yang kurang info, Yul). Dan gue juga kadang masih mendengar sedikit "sarkasme" setiap gue mengatakan jurusan apa yang gue ikuti.
Sejujurnya, ini jurusan bibit, bebet, bobot nya aja gue belum bisa mendalami banget. Setelah gue tahu, dapat referensi dari sana-sini hafalannya banyak banget. Mampus aja dah gua. Melipir di bawah kompor gas aje. Tapi apadaya, mungkin Allah maunya gue main sama Biologi aja daripada Fisika.

Australia Street by Sticky Fingers
SHiiiiD this beat is dope

Tapi, gue rasa ada panggilan alam dari jurusan gue yang satu ini, dari kegagalan gue masuk Geografi, buat jadi Geographer dan menjelajahi dunia, mengenal alam dan lain-lain. Mungkin ini jalan yang harus ditempuh seorang Geographer gagal. Meskipun, benang merahnya ngga cukup terlihat. At least, ada benang merah muda nya (?) kayak.. its more specific, like if you want to save the world, why don't you try to save the animals? (save the trees is a different story (bilang aja emang maksa sih, yul))
KARENA HEY!
Animals these days..
Orang-orang cuma saling share kepeduliannya tentang satwa-satwa yang terlantar. Mungkin mereka memang ngga punya waktu buat menolong, tapi kami, semoga siap menolong! dan kepedulian mereka pastinya menjadi dukungan untuk kami semua!!!!

Resah by Payung Teduh
aduh teduh banget jadinya
hujan..hujan..
e masih panas aje

Serunya, gue udah ngebaca grup jurusan gue yang sudah menyentuh 180 jiwa lebih. Dan disitu gue seorang yang ngga mengerti mereka ngomong apa. SET DAH. 
Kayak, google translate dari Jawa sama Indonesia tuh memang harus dibutuhkan banget pada saat-saat ini. Bisa-bisa kalau gue di marahin pake bahasa Jawa sama dosen gue cuma bisa ngangguk-ngangguk kikuk aje.

T-Shirt Weather - Circa Waves
ngga ngerti juga kenapa kayak "suweter weter" judulnya
ah tapi yang ini lebih asik

Udah ya, kayaknya gue udah bayar utang ini, sekarang tinggal bayar utang 12 hari puasa (HAHAHA LAMA BANGET YE)
bye baby baby peeeps