Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 24 Juli 2015

let the words carry you away

Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.

Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.

Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)

Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.


"KAKAK!!!!"

Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.

Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?

Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.

Kamis, 23 Juli 2015

Let it be untitled

Lunglai, beradu dengan pilu
beradu dengan kenikmatan Sang Pencipta
beradu dengan bibir yang terus menjadi kelu
beradu dengan perahan air susu
beradu dengan pikiran yang disegani oleh asa
adu, adu, adu

terus beradu di tengah gelombang yang menerjang realita

Senin, 20 Juli 2015

WALAH!

Dance Dance by Fall Out Boy
Ceritanya backsound-nya
anggap aja gitu


Halo, setelah beberapa lama tidak posting, kini aku KEMBALI!
Yah, semacam blogger yang nulisnya musiman ya gue, sepertinya gue harus mulai pake tanggal posting kayak Barajiwa. 
Tapi, mengingat gue yang bukanlah seorang yang taat dengan jadwal, jadi... lebih baik ngga usah lah.
Biarkan saja gue tetap menjadi blogger musiman.
 (LABIL)

This Ain't a Scene blablabla by Fall Out Boy
lagunya udah ganti
ngga tahu juga kenapa masih Fall Out Boy?

Sebenarnya, alasan gue ngga posting adalah nunggu sampai gue dapat kuliah (WES SEKARANG BUNYI NYA UDAH 'MAHASISWA' LHO) Meskipun, gue ngga yakin juga sih bisa tahan kalau ternyata gue ngga dapat PTN tahun ini, dengan mengulangnya di tahun depan Yang mengejutkannya, adalah dengan bantuan doa dari diri sendiri, orang tua, teman-teman seperjuangan, dan pastinya restu dari Allah SWT, gue berhasil mendapatkan kuliah dengan jerih payah sendiri. Walaupun bukan dari SNMPTN ataupun SBMPTN ini adalah anugrah yang luar biasa buat seorang Nurul Salamah Mahza yang sudah terkenal cukup malas di sekolah apalagi dikalangan kelas XII IPA 3.
 WAHAHAH 

Greek Tragedy by The Wombats


Dan lebih kagetnya lagi, gue sangat jauh dari keluarga dan teman-teman (NOZA DI UNBRAW WOY MASIH LEBIH JAUHAN) berhubung, gue keterimanya di salah satu universitas belahan Jawa sebelah timur. 
WII UNDERAGE PADAHAL
Beruntungnya, (ngga ada untungnya sih) masih ada yang gue kenal disana, kayak temen-temen nyokap dan anak temen nyokap ya meskipun canggung maksimal. Dan sampai saat

I Don't Care by Fall Out Boy

Dan sampai saat ini, gue belum menemukan koskos-an, jadi TOLONG LAH YANG BACA POSTINGAN INI GUE MINTA ALAMAT-ALAMAT KOS-KOSAN YANG BERKISAR 400K-800K UDAH MASUK LISTRIK KALAU BISA WIFI DI DAERAH SURABAYA TIMUR. Yah, sekalian kasih iklan, gitu 
Fakultas yang gue naungi ini juga cukup keras, belajarnya. Padahal, sejak gue masuk SMA juga ngga pernah ada kepikiran buat masuk jurusan yang se-profesi ini (kalau kepo jurusan apa, silahkan pikirkan sendiri, ya) anehnya, gue daftar MIPA DIMANA-MANA gue ngga pernah lolos, sedangkan mendaftar jurusan ini malah langsung JOS LOLOS. (EEEE situ lupa di tolak sama IPB dulu?) Mungkin anak MIPA kudu berhijab dulu, ye?

So Long by Circa Waves

Jurusan gue ini ngga banyak minat, malah seringkali dipandang sebelah mata. PTN yang punya jurusan ini juga masih tergolong sedikit (atau lo aja yang kurang info, Yul). Dan gue juga kadang masih mendengar sedikit "sarkasme" setiap gue mengatakan jurusan apa yang gue ikuti.
Sejujurnya, ini jurusan bibit, bebet, bobot nya aja gue belum bisa mendalami banget. Setelah gue tahu, dapat referensi dari sana-sini hafalannya banyak banget. Mampus aja dah gua. Melipir di bawah kompor gas aje. Tapi apadaya, mungkin Allah maunya gue main sama Biologi aja daripada Fisika.

Australia Street by Sticky Fingers
SHiiiiD this beat is dope

Tapi, gue rasa ada panggilan alam dari jurusan gue yang satu ini, dari kegagalan gue masuk Geografi, buat jadi Geographer dan menjelajahi dunia, mengenal alam dan lain-lain. Mungkin ini jalan yang harus ditempuh seorang Geographer gagal. Meskipun, benang merahnya ngga cukup terlihat. At least, ada benang merah muda nya (?) kayak.. its more specific, like if you want to save the world, why don't you try to save the animals? (save the trees is a different story (bilang aja emang maksa sih, yul))
KARENA HEY!
Animals these days..
Orang-orang cuma saling share kepeduliannya tentang satwa-satwa yang terlantar. Mungkin mereka memang ngga punya waktu buat menolong, tapi kami, semoga siap menolong! dan kepedulian mereka pastinya menjadi dukungan untuk kami semua!!!!

Resah by Payung Teduh
aduh teduh banget jadinya
hujan..hujan..
e masih panas aje

Serunya, gue udah ngebaca grup jurusan gue yang sudah menyentuh 180 jiwa lebih. Dan disitu gue seorang yang ngga mengerti mereka ngomong apa. SET DAH. 
Kayak, google translate dari Jawa sama Indonesia tuh memang harus dibutuhkan banget pada saat-saat ini. Bisa-bisa kalau gue di marahin pake bahasa Jawa sama dosen gue cuma bisa ngangguk-ngangguk kikuk aje.

T-Shirt Weather - Circa Waves
ngga ngerti juga kenapa kayak "suweter weter" judulnya
ah tapi yang ini lebih asik

Udah ya, kayaknya gue udah bayar utang ini, sekarang tinggal bayar utang 12 hari puasa (HAHAHA LAMA BANGET YE)
bye baby baby peeeps

Minggu, 15 Maret 2015

Tentang Gue, yang Gak Ada yang Peduli Juga.

Seraya waktu berjalan kayaknya sudah begitu lama gue ngga menulis hanya sekedar "nulis" disini.
Karena sebenarnya lama-lama bosan juga gue baca blog gue yang isinya monoton gini. Biar ada kesan "gak begitu serius" nya, mari gue isi dengan beberapa kekesalan yang telah gue hadapi di kelas XII ini.

3 kata yang bisa menggambarkan perasaan gue tentang betapa menyedihkannya kelas 3 itu.

SUPER DUPER TEKANAN!!!!

Sumpah, kelas XII itu tekanan banget, menyadari Ujian Nasional itu sudah bulan depan rasanya gue ingin mengais-ngais tanah dan menguburkan diri sendiri saja. (dan bodohnya lo sempat-sempatnya nulis, Yul)
Awalnya gue keep selow woles kayak anak pantai. Tapi, apa daya bukannya jadi woles gue malah jadi ngga woles. Ikutan baper sana sini, ikutan emosian, dan waktu belajar malah jadi makin ngga ke kontrol. Dikarenakan tugas dan ujian diadakan secara serabutan oleh sekolah gue yang agak 'sialan' ini, gue jadi makin bingung apa yang harus gue kerjain duluan. Ujung-ujungnya... nulis lagi nulis lagi.

Entah, ini cuma gue apa kalian juga. Gue bener-bener keberatan dengan keadaan seperti ini

Cukup sudah curcol nya.

((( Kata kunci
Baper : Bawa Perasaan )))


Sebenarnya, akhir-akhir ini gue lagi kesel sendiri, banyak banget hal-hal kecil yang bikin keki. Tapi karena gue lagi belajar sama Lissa biar ikutan jadi
"ini hidup gua, Bro, lo ya lo, gue ya gue" gue akhirnya berusaha untuk tidak baper. Namun, gagal. Iya, gue munafik, tau kok.
Gue kesel aja, udah tau ya ini lagi ujian banyak banget orang baper kan ngeselin(LHA LO SENDIRI?!) iya, termasuk gue ehehe.

Kadang gue ngerasa mereka yang baper tuh nyebelin banget, kayak "IH LO LEBAY BANGET SIH, GITU AJA KOK DIMASUKIN HATI."
Padahal kalo di putar balikkan, temen gue bisa aja bales ngomong,
"IH YUL, LO LEBAY BANGET SIH, UDAH TAHU DIA BAPER KOK LO MALAH IKUTAN KESEL GARA-GARA DIA BAPER. IH LO BAPER"

Emang, jadinya gue mungkin sekarang udah gak bisa bilang kalo gue itu penganut ENTP garis keras (ketahuan suka main ask.fm)
Tugas-tugas dan tekanan terhadap ujian adalah salah satu pemicu detak jantung ini.. (LOH) maksud gue, pemicu dimana teman-teman seperjuangan gua dan gue makin gak jelas aja mau nya apaan. Jadi emosional (TERMASUK GUA) sampai gue liat nya agak "huh? kok jadi gini?"
Karena, entah kenapa gue merasa kayak ada perang dingin hanya karena "baper"
Ya.. gue kadang gak suka dengan adanya perbedaan yang dari awalnya sama sekali ngga positif. Wong, nama nya juga sama-sama murid, sama-sama kelas tiga, kenapa juga sekarang jadi kubu-kubuan. Cuma karena....... baper. YHA

ARGH gue jadi bingung daritadi tuh gue nulis topik nya tentang apa, sih? Maaf ya, udah ngga jelas, gegara besok ujian kimia ditambah remedial biologi, tapi pengen curhat.
yaudah, jadi gajelas gini..

Mungkin topik utama gue yang sebenarnya adalah....

BAPER!!!

Ya, kalo mau pake bahasa Indonesia yang baik dan benar, mungkin bisa dikatakan "emosional" tapi, karena gue lagi capek pake bahasa baku, yaudah pake "Baper" aja.

Emang ya, baper tuh.. kaco si.
Kalo kata my brother Barajiwa Anggit Sentausa, semua orang tuh baper. Gue sih, setuju. Yang ngebedain ntuh bagaimana doi menyikapi kebaperan-nya. Ada berbagai macam cara orang menyikapi baper.

Jujur aja kalau gue sendiri menyikapi baper dengan mencurahkan segala emosi nya pada detik itu juga, saat "sesuatu" yang bikin gue baper emang lagi berlangsung, ngga kenal waktu, dan ngga kenal tempat.

(SEBELUMNYA SAYA MINTA PERHATIAN :
Kalau anda menemukan kesamaan topik dengan blog adik saya (atau teman saya), yang tak lain dan tak bukan adalah Barajiwa Anggit Sentausa. Saya sudah tahu. Tapi, ini semua hanya dikarenakan oleh ikatan batin kita yang sungguh kuat dan (mungkin) sama sama merasa jikalau "baper" memang topik yang cocok untuk diangkat ke permukaan. Namun, sayangnya dia menulis terlebih dahulu, sedangkan saya masih menyimpannya di dalam draft. Perilaku adik seperti itu tidak boleh dicontoh. 
Mulai dari sini, memang ditulis pada tanggal 15 Maret 2015)


Misalnya, kayak kalo ada orang yang bikin gue kesel, gue lebih mending langsung ngomong di depan orangnya, contoh lain (yang bikin gue lebih ngeselin) adalah, gue kadang suka langsung ngomong tentang ide yang gue punya (jika gue rasa, ide gue lebih baik daripada mereka-mereka) daripada gue simpen-simpen dan jatuhnya gue malah ngga ikhlas ngelakuin peran gue untuk ide mereka.
Ya, kecuali kalo argumen mereka jelas. Dan, gue kalah telak. Biasanya, gue akan benar-benar tunduk kepada mereka, hahaha.

Namun, sejujurnya gue emang baper banget, dan cara menyikapi nya juga sering salah banget.

Sikap gue yang tadi cuma Kamuflase.

Gue kadang cenderung nyimpen-nyimpen aja kalo gue kesel sama sesuatu, takut kalau orang nya marah atau gimana (biasanya diperuntukkan kepada orang yang lumayan gue peduli-in, kayak emak gue atau pacar gue atau atau sahabat gue) Tapi, setelah melakukannya gue malah merasa begok sendiri, merasa kalau hal itu seharusnya ngga gue lakukan karena sama sekali ngga ada pengaruh baik nya. Untuk gue.
Menyimpan kebaperan terlalu lama bisa buruk juga sama aja kayak nyimpen asap rokok di paru-paru.
Karena, entah gue aja atau yang lain juga merasakannya, gue kalau menyimpan kebaperan lama-lama malah bikin ngga bisa intropeksi diri. Mungkin, karena sikap egois gue yang ngga mau ngalah, jadi kalau gue ngalah mulu rasanya kesel sendiri aja gitu. Terus jadi minta dikasihanin, berharap doi (orang/sesuatu yang menyebabkan kebaperan) menjadi sadar tentang apa yang terjadi pada gue sendiri.

PADAHAL SALAH NYA ADA DI GUE ;

Kenapa coba gue sok-sok biasa aja ketika gue dihujat setengah mati padahal alasan mereka ngehujat gue juga sungguh irasional?
Kenapa coba gue sok mengerti, padahal GUE AJA NGGA MENGERTI?!
Kenapa coba gue sok baik, padahal, GUE KESEL BANGET?!
Kenapa coba gue sok-sok oke aja, padahal 'Profesor' suka banget merocos ini itu saat gue sedang ingin serius belajar?

Padahal tanpa sepengatahuan gue mereka tuh, cuma bercanda, atau mungkin ngga maksud, atau mungkin ngga sengaja, atau mungkin sebenarnya ngga tertuju untuk gue, atau mungkin emang gue nya yang salah.

Nah, dengan adanya banyak kebaperan yang tersimpan dihati, kebaperan yang ngga ada orang yang tahu kecuali lo sendiri dan Allah, lantas bagaimana orang atau sesuatu itu bisa tahu tentang apa yang terjadi sama kita?
Sementara, di lain hati lo nangis-nangis, dan seseorang / sesuatu yang membuat lo baper tidak merasa ada apa-apa dan akhirnya lo capek sendiri. Lo marah. Lo kesal. Dan lo baru saja meninggalkan orang/sesuatu itu dengan penuh kebingungan, serta tanpa ada maaf yang terucap.

YHAAAA


Gitu tuh, jadi sekarang gue tahu. Sikap kamuflase gue itu sebenarnya banyak juga manfaat nya (lebih ke manfaat untuk diri sendiri sih, Yul)
Karena, kayaknya gue merasa ngga ada guna nya menyimpan kebaperan yang sebenarnya jika diungkapkan tidak ada masalah juga. Paling-paling dianggap nyebelin.
Jadi, untuk orang-orang yang suka menyimpan kebaperannya, lebih baik omongin alasan-alasan yang bikin lo emosi itu apa, deh.. Sebelum semuanya terlambat, dan malah cuma ngukir sesal saja.

#EA


OH IYA daritadi kan gue ngebahas nya baper yang merujuk ke "tersinggung"-an doang, kan?
Nah, kalau misalnya baper yang merujuk ke "geer" gimana tuh, Yul?

Gue lebih memilih gak baper sih kalau itu HAHAHAHA.
Atau engga, sekalian aja kayak Sikap Kamuflase.

Putus urat malu lu. Ngomong sejujurnya.  Jangan lupa, harus straight to the person. Terus bilang,

"Udah 3 tahun aku baper gara-gara kamu, kita pacaran aja, yuk"


Dan Selamat, anda (mungkin) tidak akan mendapatkan nya selama seumur hidup
atau, hukum 50:50 sudah selayaknya berlaku.


OHIYA
btw, gue mau share sesuatu yang dari kemarin udah bikin kepikiran sebenarnya gue suka sama cewek apa cowok THIS GIRL IS SOMETHING I CAN'T RESIST (lho lagu crj dong)
nih,





Minggu, 08 Maret 2015

Tentang Senja

Mengapa senja selalu tertulis di berbagai macam puisi yang ku baca? Sebenarnya, saya sendiri tidak begitu mengerti tentang dunia per-puisi-an. Aku sempat mengambil kesimpulan, entah, mungkin karena warna oranye nya yang hanya dalam hitungan detik dapat dinikmati, atau karena cara pengucapannya begitu puitis dan cocok untuk mempercantik sebuah rima.

Senja, dimana adanya pergantian siang ke malam, dimana adanya pergantian terang ke gelap. Mudahnya, seperti itu. Namun, jikalau kau menjadi senja, apakah kau akan merasa spesial? Apakah kau akan merasa cantik atau anggun?
Senja, apakah dia nyata? Apakah dia semu?

Jelas dia adalah nyata! Dalam kondisi alam, senja adalah perubahan dimana matahari mulai terbenam akibat rotasi bumi yang berusaha bersikap adil dalam setiap detil geografisnya.
Maka, anggaplah senja mu nyata.
kini, marilah kita ceritakan senja. Tentang detik yang hanya berjalan sebentar, tentang bumi yang bersikap seimbang.
Hilangkanlah perasaan semu mu tentang senja, nikmati lah senja mu selagi bisa.

Tapi apakah senja mu dapat terus bersamamu? Sayangnya tidak, sayang. Senja tak akan pernah meninggalkan langit. Hanya saja senja bersikap simpati kepada mu dan terus datang pada waktunya agar kau sempat melihatnya. Ia tak akan menunggu mu, senja tak akan pernah ada waktu untuk menunggu dirimu yang hidupnya penuh oleh kesibukkan tentang masalah duniawi dan akhirat. Kejarlah dirinya jikalau kau berniat untuk terus menyimpannya didalam memori.

Sabtu, 28 Februari 2015

Asing

Terperanjat lah dirimu dalam kesinambungan tentang lupa diri.
Lupa ambisi, lupa ilusi. Bermain dengan api, bermain dengan salju, kini sudah tak ada bedanya karena sama sama ngilu.
---Cukup basa-basinya

Apa kabar kau, jenaka? sulit kah dirimu mempertahankan hidup?
sudah bangga kah kamu dengan tawa dari bermacam-macam orang?
Apa kau ternyata malah memilih mundur dari begitu banyaknya realita yang menganggap mu adalah orang yang sekedar bahagia?
Jangan mempersusah diri, wahai Jenaka, menyayangi seorang wanita memang kerap kali menyakitkan. Kini memang waktunya kamu bersedih di sudut ruang hias ini, biarkan saja mereka jadi kebingungan atas kelakuan mu yang sungguh merugikan.
Namun ada satu yang harus kau ingat setelah kau menangis karena merasa kurang kasih sayang seperti manusia normal, Jenaka.
Wanita tak suka dirimu, Jenaka. Wanita mencintai dirinya yang sudah terlebih dahulu memiliki keseriusan daripada engkau yang hanya bisa membuatnya tersenyum saja.
Lupakan lah seorang Wanita, Jenaka. Wanita memang bukan untuk mu.
Inilah saat nya, Jenaka. Cari lah perempuan lain yang bukan hanya sekedar Wanita.

Rabu, 07 Januari 2015

jarak
Tidak begitu jauh tidak begitu dekat,
tapi nyatanya memang begitu menggebu, bagaikan abu atau entah pasir yang terus berdesir dan menggambarkan oasis.
Namun berlahan lahan pudar mencari setiap warna nya masing-masing.
Kehadirannya selalu membuat satu orang insan bergidik dan terperanjat dalam doa doa untuk memilikinya
padahal hanya dengan senyuman lembut yang tergambarkan begitu dingin untuk seorang kekasih, yang bukanlah kekasih.
Mungkin inilah adalah kisah kasih jarak jauh yang sebenarnya. Merindu namun tak bisa dibilang merindu, memiliki namun tak bisa dikatakan memiliki.
Karena jika insan ini merasa ingin dicinta, sang kekasih tak dapat mengetahuinya, meskipun jarak memisahkan, kekasih hanya bisa diam, berdebu oleh jarak bahkan waktu, serta memberi simpati terdalam hanya kepada sang insan seorang.

( dari catatan yang terlalu telat ingin di publikasikan)
1 Februari 2014

Jumat, 26 Desember 2014

Belenggu Realita

Aku terhimpit dalam labirin yang memaksa ku untuk diam saja. Memaksa ku untuk merendam emosi agar tak memuncak amarah ku, yang semakin ditahan malah keluar sedikit demi sedikit pada tempat yang bukan seharusnya. Aku tidak lihai dalam bermain dengan suguhan cerita mimpi dan angan, karena pada dasarnya hati ku hanya ingin bernaung bersama realita saja, tapi sudah sewajarnya manusia lihai berangan, maka gagal lah diriku membuang segala angan ku untuk menjadi serius pada realita.

Manusia kadang tak mau sadar kalau diri nya terjebak dalam waktu dan kondisi. Lihat saja, mana ada manusia didunia ini yang mengatakan 24 jam itu cukup untuk satu hari? Bahkan gelandangan pun belum merasa cukup terpanggang teriknya matahari, karena ia masih ingin meminta balas kasihan sampai bertemu adzan subuh kembali. Apalagi orang-orang pemimpi, seperti saya.
Dan lihat, berangan memakan banyak waktu, tapi orang-orang  masih saja melakukannya. Sebagian orang sukses berpikir bahwa itu tidak penting, buang-buang waktu. Padahal salah satu syarat nya untuk bisa berdiri pada jabatannya sekarang adalah sebuah mimpi. Waktu.

Beralih ke kondisi. Kondisi buat kita runyam sewaktu-waktu. Buat kita berbohong bahkan bisa saja tidak peduli jika kita sendiri memegang utuh suatu komitmen. Kondisi buat kita berakhir perih atau malah kebalikannya. Disaat berbagai macam masukan memaksa kita untuk tidak menapakkan kaki pada hal itu tapi kondisi berkata sebaliknya, kondisi yang hanya kamu ketahui seorang. Kondisi dirimu dimana tidak ada satupun orang mengerti bahkan, untuk sekedar 'ingin mengerti' juga ogah.

Hingga kini waktu dan kondisi merupakan peran terpenting bagi kehidupan seseorang. Terus bermain dan menghancurkan setiap individu saat sedang asyik menyalahkan mereka sebagai peran antagonis utama. Yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan dan disalahkan juga, sih.. karena pada hakikatnya mereka adalah peran penting yang tidak mengaku penting. Inosen tetapi sungguh penuh muslihat.

Aku sendiri kini sibuk menyalahkan Waktu dan Kondisi. Menyumpahkan kata-kata terbinal ku hanya untuk mereka berdua. Tapi apa daya? Waktu tak akan bergeming meskipun umpatan ku begitu keji, dan kondisi juga tak akan sudi untuk berubah walaupun ku berdoa sampai mati.
Kadang setiap nasip ku malah membuat ku penasaran, apa ini bukan salah mereka?
Namun, siapa lagi yang patut aku salahkan? Aku? Jika aku mengaku salah pasti hati terdalam ku tetap menolak mentah-mentah dan merasa tak adil hingga berbohong lagi lah aku sebegai manusia. Atau orang-orang itu? Mereka juga sama dengan aku, kebingungan untuk menempatkan waktu dan kondisi yang tepat, dan dengan menyalahkan mereka, sama saja dengan menyalahkan diriku sendiri.

Karena aku dan mereka sama-sama benda hidup yang memiliki emosi.

Sedangkan Waktu dan Kondisi tak lain dari benda mati yang pasrah untuk diumpat.



Maafkan saya Waktu.. Maafkan saya Kondisi..

Ini adalah kali pertama saya meminta maaf pada sosok terjahat di muka bumi.


26/12/2014

Rabu, 24 Desember 2014

Sepertinya saya melanggar batas, atau malah anda?

Sepertinya saya tidak perlu memasukkan kata yang menggambarkan kesempurnaan untuk melukiskan dirimu yang selalu menghancurkan delusi ku tentang kejadian yang nyata selama kita menjalin kasih (terdengar menggelikan, ya?).
Karena pada nyatanya, apa yang mereka lihat sekarang adalah apa adanya. Anda salah satu syarat kesempurnaan saya.
Tidak ada perlu nya juga saya menggambarkan anda begitu lebih, karena nanti saya terlihat kecil. Bahkan saya sudah kecil, tanpa harus menduga bahwa saya akan terlihat kecil dihadapan mereka saat bersama anda.

Untung saja saya bukan orang yang membabibuta saat mencintai seseorang, tetapi itu menurut diri saya saja, tidak tahu kalau menurut anda atau teman-teman saya.
Tapi sudahlah, memang sudah terungkap dan sudah terbukti bahwa tulisan ini tak lain ya memang untuk anda, yang sedang membaca sambil tersenyum atau malah muak karena baru saja saya sanjung-sanjung karena anda sempurna. 

Tolong maafkan saya, manusia yang suka memabaca buku dan rela menghabiskan beratus-ratus rupiah untuk beberapa buku dalam seminggu, menjiplak kata-kata mereka untuk mendapatkan perhatian anda, dan mendapatkan pikiran anda.. yang sebenarnya.. anda yang beruntung. 
Siapa lagi yang tidak bersyukur memiliki anda? Dapat kasih sayang anda? Dapat dipanggil 'sayang' dengan anda? ditambah dengan suara-suara halus itu yang hampir setiap hari tidak pernah absen dari telinga saya.

Setiap pembicaraan yang kita dedikasikan juga kadang tidak wajar kemana arah nya, jikalau ditanya apa saja yang telah dilakukan bersama, jawaban saya untuk selanjutnya mungkin semakin tidak wajar dan tidak dapat dipublikasikan, namun saya disini masih tersenyum-senyum kasmaran atas banyak hal yang kita lewati terutama atas pengorbanan yang sepertinya tidak pernah saya lakukan, karena mungkin saya kurang punya hati. Karena mungkin, saya mencintai anda setulus hati sementara anda tidak, dan saya agak memaksa anda untuk mencintai saya lebih.. kurang jahat apa lagi saya?

Walaupun kadang saya sungguh penasaran apa arti dari semua ini dan apa tujuannya, jujur saja saya masih tidak tahu. Namun, diri saya pasti malas mencari-cari alasan dari ini semua karena saya menikmati setiap detik tentang cerita kita yang masih berdua.
Mungkin juga kali ini saya terlalu berlebihan untuk menceritakan tentang kita, ujung-ujung nya pasti juga kita berpisah, bosan satu sama lain.
Lucunya, saya terdengar pesimis akan bagaimana berujungnya cerita kita ini, padahal saya sendiri ketakutan setengah mati kalau nanti akan berujung tragis nya cerita kita ini. 
Klise, ya?

Biasa, beberapa buku yang saya baca mengajarkan sedikit drama dalam hidup (hehe.. maaf anda memang selalu melihat saya membaca buku-buku yang sejenis dengan karya Dan Brown, tapi anda kan tidak pernah berminat memasuki alam saya yang sesungguhnya)

Saya ketakutan bahwa akhir cerita ini sama seperti film-film romantis lainnya, berujung berpisah tapi masih saling mencinta. Kadang, suatu hubungan terlalu sulit untuk dipertahankan, bukan?
 
Namun jika memang sudah bosan, ya.... berakhir saja. Masing-masing pihak sudah punya hak. 
Tolol nya saja saya malah tidak ingin berpisah... saya akan katakan 

"Meskipun aku bukan diurutan pertama sebagai orang yang kamu sayang, menjalin hubungan kan syaratnya cuma sama-sama sayang, ga peduli aku diurutan keberapa.. yang penting aku sayang kamu, kamu sayang aku"
Enek, enek deh anda bacanya.

Lalu teman anda hanya mendecak kaget dan mengecap anda jahat, maaf ya... Padahal jika cerita diputar balik saya adalah peran antagonis nya.

Tapi akan saya usahakan perkataan itu tidak akan pernah terucap.

Namun bagaimana kalau yang terjadi adalah kemungkinan lainnya?

keduanya masih saling cinta, namun semua harus berakhir? Apa kabar itu?

Ketika situasi dan kondisi ikut main andil dalam urusan kasih-mengasihi mereka..

Dan setelah itu mereka bermain cinta dibelakang komitmen yang ada..

Apakah itu tidak terdengar..... bangsat?








Background

Sebagian tulisan ini adalah dari curahan hati seseorang yang tidak saya kenal, dia tidak secara langsung bercurah kepada saya dan tidak pernah bertujuan untuk bercurah sepertinya, saya hanya membaca dari keadaannya (WOO SOTOY) gak deng.. hanya sedikit berimajinasi apakah yang saya lihat dari wajahnya benar-benar apa yang ia rasakan
Lalu, sebagiannya lagi adalah apa yang benar-benar saya pikirkan akhir-akhir ini.